Jembatan Zaman

This item was filled under [ Article ]

. .Bertambahnya usia bukan berarti kita paham segalanya..:|

Pohon besar tumbuh mendekati langit dan menjauhi tanah. Ia merasa telah melihat segala dari ketinggiannya. Namun masih ingatkah ia sengan sepetak tanah mungil waktu masih kerdil dulu?:-) Masih pahamkah ia akan semesta kecil ketika semut serdadu bagaikan keretea raksasa dan setetes embun seolah bola kaca dari surga,:-)tatkala ia tak peduli akan pola awan di langit dan tak kenal tiang listrik. .  .khiskhisk. .

Waktu kecil dulu, kupu-kupu masih sering hinggap di pucuknya. Kini burung besar bahkan bersangkar diketiaknya “gubraK..”, kawanan kalelawar menggantungi buahnya. Namun jangan sekali-kali ia merendahkan kupu-kupu yang hanya mengeliat di tapaknya, karena mendengar bahasanya pun ia tak mampu lagi.


Setiap jenjang memiliki dunia sendiri, yang selalu dilupakan ketika umur bertambah tinggi. Tak bisa kembali ke kacamata yang sma bukan berarti kita lebih mengerti dari yang semula. Rambut putih tak menjadikan kita manusia yang segala tahu.

Dapatkah kita kembali mengerti apa yang ditertawakan bocah kecil atau yang digejolakkan anak belasan tahun seiring dengan kecepatan zaman yang melesat meninggalkan? Karena kita tumbuh ke atas tapi masih dalam petak yang sama. Akar kita tumbuh ke dalam dan takbisa terlalu jauh ke samping. Selalu tercipta kutub-kutubpemahaman yang tak akan bertemu kalau tidak dijembatani.

Jembaan yang rendah hati, bukan kesombongan diri. . :-)

Popularity: 12% [?]

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Comment

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture.
Anti-Spam Image